Menu

Sanvest tinggal menunggu hari

  • Kamis, 13 Juli 2023
  • 902x Dilihat

Selamat pagi Semeton...
 Happy Tourism.. 

Ada yang sudah gak sabar untuk datang ke Sanfes?
Sabar-sabar, nih mimin ada info tentang Sanur Village Festival.

Pemerintah Kota Denpasar mendukung terselenggaranya Sanur Village Festival ke-16 'Amrta Sagara'

Sanur Village Festival (Festival Desa Sanur) pertama kali digagas pada tahun 2005 dengan tujuan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pariwisata. Festival yang digelar di Kawasan Pesisir Sanur ini menjadi ruang untuk menjembatani antara gerak masyarakat, baik dalam program yang bertumpu pada kehidupan pantai maupun pariwisata. 

Sanur, yang terkenal dengan keindahan pantai dengan panorama matahari terbit yang menawan selalu menjadi pemikat bagi wisatawan lokal maupun internasional untuk berkunjung. Awalnya, di tahun 1932 seorang seniman asal Belgia bernama Adrean Jean Le  Mayeur The Markpres singgah di Pulau Bali, seniman tersebut menikahi gadis Bali bernama Ni Nyoman Polok. Seniman ini menuangkan Pantai Sanur dalam karya-karyanya yang kemudian di pamerkan hingga mancanegara. Sejak saat itu, pantai dengan ombak tenang ini mulai dikenal masyarakat luar.
Dan bahkan...saking indahnya panorama pantai Sanur saat matahari terbit...Perdana Menteri pertama India, Jawaharlal Nehru. menjuluki Sanur sebagai  Morning of The World....

Perayaan Masyarakat Pesisir Sanur ini terus berkembang hingga saat ini sampai pada Sanur Village Festival ke-16.

Sekilas tentang Sanvest ke-16

Sanur dianugrahi tujuh pantai dengan berbagai karakter yang membentang dari selatan ke utara sepanjang 8 kilometer, mulai dari pantai Merta Sari, Pantai Semawang, Pantai Batu Jimbar, Pantai Karang, Pantai Segara Ayu, Pantai Sindhu hingga Pantai Matahari Terbit. Begitu pula dengan “tembok” terumbu karang di pinggir laut yang terjaga habitatnya dan secara berkala menghasilkan butiran-butiran halus sehingga pantai berwarna putih menjadi ciri khas Sanur. Bentangan selatan-utara ini membuat di sepanjang pantai bisa menikmati matahari terbit (sunrise) dari timur sepanjang masa.
Berbagai ikan dan biota laut lainnya, hidup dan berkembang dalam habitat yang jernih dan sehat, sehingga menjadi sumber tangkapan bagi nelayan. Dan dengan kemampuan olahan sejumlah masyarakatnya, menghasilkan kuliner berbahan dasar seafood yang enak. 
Kombinasi yang lengkap tersebut, ditambah dengan keramahtamahan penduduknya dan seni budaya adi luhung yang dihasilkannya, maka Sanur sejak dulu sudah menjadi destinasi yang dikenal di seluruh dunia, terbukti terus menerus berdatangan turis dari mancanegara yang memilih Sanur sebagai tempat plesiran.
Merujuk dari Kitab Adiparwa yang menyebutkan Laut (Sagara) sebagai sumber kehidupan (AMRTA), maka Sanur Village Festival ke-16 ini memakai tema AMRTA SAGARA. Sesuai tradisi, festival desa bertaraf internasional yang akan berlangsung  19 – 23 Juli 2023 di Pantai Matahari Terbit, Sanur, Denpasar ini memilih tema yang diserap dari kondisi dan animo masyarakat terkini. Dan dalam kitab tersebut, ada dua konsep yang mempengaruhi kehidupan masyarakat di Bali, yaitu mencari laut ke dalam diri disebut AMRTA JIWA dan mencari laut ke luar tubuh di sebut AMRTA URIP. 
Dalam lontar Kuttara Kanda Dewa, Purana Banggsul disebutkan “Sagara Kretih” sebagai pengingat agar masyarakat Bali membuat “tenget” dan menyucikan Sagara yang diimplementasikan dengan pembangunan Pura Segara, Nyepi Segara dan Upacara besar di Candi Narmada. 
Selain sebagai tempat mencari kehidupan, dalam pandangan kewaskitaan masyarakat Bali, pada Campuhan Sagara adalah tempat untuk memusnahkan Sarwa Mala, yaitu sarwa rogha : segala penyakit, sarwa vighna : segala halangan, sarwa satru : segala musuh, papa klesa : mengotori hidup. dan sarwa dusta : berbagai bencana dari orang jahat. Diyakini Campuhan merupakan pertemuan sungai dengan lautan seperti pertemuan ibu dan bapak, ibu berbentuk sagara dan bapak dalam bentuk lingga dan ini disebut pula sebagai pertemuan purusa-pradana, di tempat ini diyakini sebagai tempat melukat untuk mensucikan diri. Ke sagara juga setiap tahun diadakan upacara melasti ke laut sebelum hari Nyepi, untuk menyucikan pralingga dan juga tujuan untuk mensucikan kekotoran dunia dan menerima sarinya AMRTA di tengah Sagara.
Diceritakan pula, sagara yang asri menjadi pilihan Sang Kawi menulis indahnya sagara, beliau adalah Ida Dang Hyang Nirartha, pendeta utama Dalem Waturenggong, yang memiliki kesukaan berkelana di tepian segara menghasilkan kekawin berjudul Kidung Rasmi Sancaya. Beliau yang dimulaikan dengan sebutan sebagai Pedanda Sakti Bahu Rauh, Danghyang Dwijendra, Pangeran Sangupati atau Tuan Sumeru duduk di bawah pohon di Puncak Bukit Geger menulis keindahan sagara. 


Menjaga Laut cara mensyukuri AMRTA SAGARA
Tema AMRTA SAGARA bertujuan mensyukuri anugrah dari laut dengan cara menjaga laut. Masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia patut memberi perhatian khusus, karena lautan disatukan di seluruh dunia. Sampah yang dibuang entah di daratan mana, bisa saja sampai di Sanur, begitu sebaliknya. Karena sampah saat ini, didominasi berbahan plastik dan susah diurai. Sampah ini bisa merusak tempat biota laut bertelur dan berkembangbiak. Demikian pula, kekeruhan air akan berdampak pada mutu air, karena air laut lah yang diuapkan matahari lalu menjadi mendung dan diturunkan dalam bentuk hujan, lalu diserap ke dalam tanah. Air itulah yang kemudian menjadi sumber air minum dan berguna pula bagi kelangsungan hidup tumbuhan dan binatang. Karena itu, dengan menjaga mutu air laut bisa menjamin air bersih buat semua, salah satunya dengan tidak membuang sampah dan limbah ke aliran sungai yang pasti akan menuju laut luas.
Pada cerita Ramayana, Rama sempat dinasehati Batara Baruna karena telah menguras dan mengurug lautan untuk bisa pergi berperang ke Alengka Pura melawan Rahwana. Diingatkan Batara Baruna, apa  yang dilakukan dengan menguras dan menguruk laut mengakibatkan kesengsaraan biota laut. Penulis kakawin Ramayana ini,  Mpu Yogiswara, lewat kekawin ini memberi nasehat bagi siapapun yang punya kuasa memegang negeri tidak boleh menguruk dan merusak sagara (laut). 
Hingga kini warga Hindu di Bali mesakralkan sagara, bukan saja karena tempat mencari AMRTA dan peleburan. Tapi karena sagara adalah “tempat kembali.” Pada upacara ngayut setelah badan menjadi abu pada upacara ngaben, lalu abunya dikembalikan ke sagara, artinya dari air (toya) kembali ke air.
Pada kidung Nawa Ruci, Mpu Siwa Murti, disebutkan bahwa Sang Bima ditugaskan oleh Bagawan Drona untuk mencari Tirta Kamandalu ke tengah sagara dan pada saat menyelam, tidak boleh membawa apa-apa. Disana kemudian Bima bertemu Bima kecil beraga Dewa Ruci, lalu siapa Dewa Ruci dalam diri, tidak lain adalah AMRTA, yang tidak kena kelayusekaran (meninggal) dan beliau yang meraga urip jati. 
Menjaga sagara adalah menjaga keseluruhan kehidupan di bumi ini, karena itu lewat tema AMRTA SAGARA, Sanur Village Festival dalam berbagai program kegiatan, lewat aksi dan kesenian mengampanyekan pentingnya melestarikan laut secara berkesinambungan. 


Selayang Pandang Sanur Village Festival
Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru pernah menyebut Sanur sebagai “Morning of the World” ketika mengunjungi daerah pantai ini pada tahun 1950-an. Pagi hari, dari kawasan elok ini bisa disaksikan fajar merekah dan matahari mengawali sinarnya. Tampak pula di kejauhan Gunung Agung dan gugusan tiga pulau Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan.
Jauh sebelum kunjungan petinggi india itu, para pelancong dan seniman datang silih berganti ke Sanur. Bahkan Miguel Covarubias dalam bukunya Bali Island telah mempromosikan secara intelektual Pulau Bali dan isinya termasuk aktivitas seni dan budaya di Sanur. Selanjutnya, Sanur menjadi destinasi pariwisata yang sangat dikenal para pelancong, seperti belumlah lengkap rasanya menikmati matahari terbit kalau belum ke Pantai Sanur.  
Beragam aktivitas masyarakat dari pagi sampai petang menghiasi kehidupan pantai. Pantai Sanur menjadi denyut nadi pariwisata, memberikan ruang dengan segala pesona dan keunikan, sekaligus mempertegas bahwa disamping alam dan lingkungan, masyarakat adalah modal utamanya. Masyarakat Sanur memiliki karakteristik sebagai masyarakat pesisir yang energik, dinamis dan kreatif serta adaptip terhadap budaya dari luar. Seluruh potensi itulah yang dikreasi dan disajikan dalam kemasan sebuah festival yang kini telah menjadi bagian dari kehidupan desa dan dirindukan oleh masyarakatnya, termasuk wisatawan asing yang kerap pulang dan kembali ke Sanur.

Mendorong Festival yang berkelanjutan
Banyak catatan dan kisah sepanjang perjalanan Sanur Village Festival dari tahun 2006 – 2022. Program-program yang dikreasi berdasarkan tema besar yang diusung selalu menyedot perhatian pengunjung maupun wisatawan domestic dan manca negara. Setiap keberhasilan pelaksanaan SVF adalah cerminan untuk melihat kembali, evaluasi, refleksi dan inovasi bagi pelaksanaan tahun-tahun berikutnya. 
Melihat kembali catatan perjalanan Sanur Village Festival dengan tema besar yang diusung dari tahun 2006 sepanjang lima belas tahun perjalanan yakni berturut-turut sebagai berikut: 25-27 Agustus 2006 dan 15-19 Agustus 2007, keduanya mengusung tema The New Spirit of Heritage. 6-10 Agustus 2008 dengan tema Going Green. 12-16 Agustus 2009 dengan tema Marine Live, 4-8 Agustus 2010 dengan tema Saha Nuhur, 18-22 November 2011 dengan tema Flower Fiesta, 26-30 September 2012 dengan tema Salampah Laku, 24-28 September 2013 dengan tema Segara Giri, 20-24 Agustus 2014 dengan tema Morning of the World, 26-30 Agustus 2015 dengan tema Dasa Warsa, 24-28 Agustus 2016 dengan tema Tat Twam Asi, 9-13 Agustus 2017 dengan tema Bhinneka Tunggal Ika, 22-26 Agustus 2018 dengan tema Mandala Giri, 21-25 Agustus 2019 tema Dharmaning Gesing dan tahun lalu pada 17 – 21 Agustus 2022 dengan tema Surya Sewana. Dan memasuki tahun ke-16 penyelenggaraan akan mengusung tema AMARTA SAGARA 19 – 23 Juli 2023, di Pantai Matahari Terbit, Sanur.